Home » » Tingkatkan Produksi, Pengusaha Coco Fiber Butuh Investor

Tingkatkan Produksi, Pengusaha Coco Fiber Butuh Investor

Written By yun ciamis on 04 May 2017 | 6:05 PM

ciamiszone.com :
SINDANGKASIH,- Home Industri pengolahan tapas/serabut kelapa (Coco Fiber) asal Ciamis sudah menembus pasar ekspor ke China dan Turki, namun mereka terkendala belum bisa memenuhi permintaan ekspor tersebut karena keterbatasan produksi.

Seperti diungkapkan Asep Nugraha, pemilik pengolahan serabut kelapa di Desa Gunung Cupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, kini pihaknya baru bisa memproduksi Coco Fiber sebanyak dua ton setiap harinya. Sementara kebutuhan ekspor mencapai 400 ton per bulan.

“Jumlah produksi tersebut belum mencukupi permintaan export ke China yang mencapai 400 ton perbulannya, belum lagi permintaan dari Turki,” kata Asep, Kamis (4/5/2017) di Sindangkasih.

Asep yang kini memiliki tenaga kerja kurang dari 30 orang itu menjelaskan, Coco Fiber adalah barang setengah jadi terbuat dari serat/serabut/tapas kelapa yang sangat banyak diminati oleh industri luar negeri, barang tersebut diperlukan untuk pembuatan jok mobil, kasur, matras, dan lain lain. 

Diakuinya, untuk bahan baku berupa tapas/serabut kelapa tak menjadi kendala, karena banyak didapat di daerah Ciamis, apalagi Ciamis penghasil kelapa terbesar di wilayah Jawa Barat.

“Produk coco fiber hasil dari Sindangkasih ini sangat diakui oleh China karena kualitasnya yang cukup baik dibanding produksi pesaing lainnya dari India dan Srilangka yang memang biaya produksinya juga lebih rendah dari produksi Ciamis ini,” kata Asep.

Asep berharap, Pemerintah Kabupaten Ciamis peka dalam meningkatkan pelaku usaha, khususnya usaha pengelolaan tapas/serabut kelapa untuk Coco Fiber yang produksinya saat ini sudah mulai diminati pasar dunia.

“Saya berharap, pemerintah melirik usaha kami, dengan mendatangkan investor yang bisa menyiapkan mesin pengolahan yang lebih canggih lagi hingga kami bisa memenuhi permintaan ekspor,” katanya.

Hal senada diungkapkan pengusaha serupa lainnya, Mulyana Rusman, menurutnya, permintaan ekspor bukan hanya ke China dan Turki saja, tapi pasarnya juga mencapai ke Korea, Jepang dan Norwegia. Tapi tetap kendalanya tidak bisa memenuhi kuota permintaan karena produksinya terbatas.

“Jika saja ada investor, kami bisa memenuhi permintaan mereka. Kami berharap Pemkab bisa memberikan solusi,” katanya.

Dijelaskannya,  tanaman kelapa banyak manfaatnya, dari mulai buah, pohon, daun, lidi, semua dapat diolah. Selain serabut kelapa,  dan serbuknya kini yang sedang naik daun, yang di namakan Coco fit. 

Namun sama saja, terkendala dalam produksi untuk memenuhi permintaan, maslaahnya pengeringan cocok fit untuk pasar dunia harus dengan kadar air 18 persen.

“Ini yang yang masih menjadi hambatan dalam mencukupi permintaan ekspor, karena diperlukan mesin yang benar-benar bisa memproduksi sesuai pasar dengan jumlah yang banyak,” katanya.

Ditambahkan Mulyana, selain itu limbah coco fiber juga dapat di buat keset, salah satunya di daerah Kebumen yang sudah berjalan dengan home industrinya  dengan bahan baku dikirim dari Ciamis.

"Saya sangat berharap, Pemkab Ciamis bisa melirik dan meningkatkan program UKM dan home industri dalam bidang pengolahan tapas/serabut kepala yang kami jalani ini, agar usaha ini menjadi tonggak perekonomian di Kabupaten Ciamis,” harapnya. (Andik/cZ-01)*
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment



 
ciamiszone | terbit sejak Oktober 2009
Copyright © 2017. ciamiszone.com - All Rights Reserved
Wed Admin nurdanian
Thanks to Creating Website and CaraGampang.Com