Home » » Angka Kematian Ibu dan Anak Meningkat

Angka Kematian Ibu dan Anak Meningkat

Written By yun ciamis on 24 July 2018 | 10:12 AM

ciamiszone.com :

CIAMIS,- Angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Ciamis tahu 2018 meningkat dibanding tahun sebelumnya pada periode yang sama  semester pertama.

Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis hingga bulan Juli 2018 terdapat 11 kasus, eningkat dibanding tahun 2017 disemester sama yang hanya 6 kasus.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, drg. H. Engkan Iskandar, MM, kasus kematian ini terbagi pada masa selama kehamilan, persalinan, dan juga masa nifas.

“Angka itu tidak mengalami perubahan signifikan setiap tahunnya. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kondisi tersebut antara lain karena terlalu muda untuk hamil, terlalu tua untuk hamil, terlalu sering hamil dan terlalu dekat jarak kehamilannya yaitu kurang dari dua tahun,” katanya, Selasa (24/7/2018).

Diakuinya, selain itu ada juga beberapa variabel yang menjadi kendala dalam sistim pelayanan rujukan, namun dari sisi target memang sudah pada zona aman.

“Yang paling penting kita harus terus berupaya menjaga komitmen dan konsisten meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, baik melalui peningkatan kualitas SDM dan peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan dengan memperhatikan pola kendali mutu dan kendali biaya di setiap tingkatan Pasyankes. Hal lain yang tidak kalah pentingnya pula adalah peran masyarakat dalam kemandirian,” jelasnya.

Sementara Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kab. Ciamis, Casuli, SKM, MKM menjelaskan, ada 6 penyebab utama dari meningkatnya angka kematian ibu dan bayi yang baru lahir tersebut, diantaranya : Satu, masih ada kesenjangan akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, yang berhubungan erat dengan kondisi ekonomi dan sosial. Dua, keterlambatan mendapat pertolongan pada keadaan darurat, yang berhubungan dengan lokasi kelahiran dan proses pengambilan keputusan untuk mencari pertolongan tenaga ahli.

Penyebab ketiga adalah pengetahuan tentang pendidikan kesehatan reproduksi yang belum memadai, dan keemat tentang deteksi awal dan upaya pencegahan yang belum maksimal untuk penyakit komplikasi kehamilan, seperti malaria, tuberculosis, hepatitis B, diabetes melitus, jantung, dan obesitas.

Sementara peyebab kelima karena belum terpadunya data dan sistem informasi kesehatan yang berpengaruh pada pengambilan kebijakan. Dan keenam yaitu regulasi yang tumpang tindih dan bias gender, contohnya UU Perkawinan No.1/1974 yang mengatur usia pernikahan minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki.

Dari enam penyebab tersebut, bisa menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih oleh pemerintah. Selain itu, masyarakat juga bisa lebih sadar akan tindakan yang bisa menyebabkan risiko kematian pada ibu dan bayi baru lahir.

“Hal pertama yang menjadi kunci dilihat dari kualitas pelayanan kesehatan. Kemudian sistem rujukan rumah sakit, pengaruh keberadaan JKN, dan terakhir kebijakan dari pemerintah,” tambahnya.

Diakui Casuli, keberhasilan dalam menekan angka kematian ibu dan anak tidak terlepas dari upaya Pemkab Ciamis dalam meningkatan kualitas sumber daya manusia bidang kesehatan, seperti akses layanan semakin mudah terutama Puskesmas mampu poned (Puskesmas mampu melayani persalinan normal), dukungan pembiayaan baik yang bersifat preventif maupun promotif serta kuratif, dan pembinaan terintegrasi lintas program yang dilakukan berjenjang dan berkesinambungan. (Andik ST)*
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment



 
ciamiszone | terbit sejak Oktober 2009
Copyright © 2018. ciamiszone.com - All Rights Reserved
Wed Admin nurdanian
Thanks to Creating Website and CaraGampang.Com