Breaking News

Viral Keraton Agung Sajagat dan Sunda Empire, Siapa Raja Galuh Ciamis?

ciamiszone.com :
UNIGAL,- Hebohnya kemunculan Keraton Agung Sajagat di Purworejo Jawa Tengah dan Sunda Empire di Bandung, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, H. Yat Rospia Brata angkat bicara, sebagai teureuh Kerajaan Galuh, dirinya merasa prihatin karena kebudayaan yang seharusnya dilestarikan justru dijadikan komoditas bisnis dan juga berbau politik.

Yat yang juga Rektor Universitas Galuh (Unigal) Ciamis ini pun menegaskan, tidak ada hubungan antara Keraton Agung Sajagat di Purworejo dan Empire di Bandung dengan Kerajaan Galuh.

“Bahkan sampai saat ini pun belum ada Raja Galuh di Ciamis, siapa Raja Galuhnya? Belum ada kesepakatan dari para trah Galuh,” tegasnya kepada ciamiszone di Gedung Rektorat Unigal Ciamis, Sabtu (18/01/2020). 

Dijelaskan Yat, untuk menentukan siapa Raja Galuh, sesuai dengan Undang-undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 tahun 2017 adalah wewenang Dewan Kebudayaan Kabupaten/Kota setempat.

“Jadi sampai saat ini, Dewan Kebudayaan belum nenetapkan siapa Raja Galuh Ciamis. Hal ini terjadi karena belum adanya kesepakatan diantara para trah/turunan Galuh yang mereka masing-masing memiliki argumen tersendiri bahwa dirinya yang lebih berhak karena dekat secara trahnya,” katanya.

Karena Dewan Kebudayaan belum mendapatkan validasi dari antara trah Galuh untuk menyepakati salah seorang trahnya itu menjadi Raja Galuh, pihaknya pernah berupaya mencarikan solusi untuk membagi bagi secara bergilir setiap tahun, namun ada ketidaksetujuan dari pihak tertentu sehingga tidak mendapat kesepakatan.

Diakuinya, saat ini Dewan Kebudayaan lebih mengedepankan perdamaian dari pada menjadi konflik diantara mereka yang merasa dirinya sebagai trah/keturunan Galuh.

“Meskipun kami belum mendapatkan validasi dari antara trah Galuh untuk menyepakati salah seorang trahnya itu menjadi Raja Galuh, kami tetap menjaga kondusifitas di Tatar Galuh Ciamis. Kita maknai saja secara filosofinya,” katanya.

Daakuinya, untuk memperlancar dalam prsoses pelestarian kebudayaan Kerajaan Galuh di Ciamis, sebetulnya pihaknya ingin segera menetapkan seorang Raja Galuh di Ciamis, tetapi harus sesuai kesepakatan para trah Galuh.

“Karena jika itu sudah terwujud, kami akan mudah untuk menarik bantuan dari  pusat dalam pemajuan pelestarian, diantaranya bisa mengucurkan dana untuk pembangunan keraton dan pembangunan lainnya untuk pemajuan kebudayaan di Tatar Galuh Ciamis ini,” jelasnya.

Kembali menyinggung viralnya Keraton Agung Sajagat, Yat menilai,  hal itu mengarah keaksi penipuan dengan modus mengutip sejumlah uang untuk pakaian seragam yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah dengan menjanjikan keududukan di keraton tersebut, korbannya adalah mereka yang notabene orang-orang mampu tapi perlu eksistensi untuk menduduki jabatan.

Ditegaskan, Sunda Empire tidak ada keterkaitan dengan Kerajaan Galuh, itu hanya karangan mereka saja, karena secara sejarah, hitorisnya ada Salakanagara lalu Tarumanagara yang selanjutnya ada dua cabang, yaitu Sunda dan Galuh.

Menurutnya, mereka melakukan pembenaran sejarah dengan  memanfaatkan ruang-ruang ksoong para pengikut, maksudnya mereka bicara budaya tapi tidak paham budaya, karena ada paham diluar kontek budya, tapi ada eksploitasi ekonomi.

“Ada ekploitasi ekonomi untuk mencari keuntungan pribadi, jika versi pihak berwenang yaitu bisa dikategorikan adanya dugaan penipuan,” tegasnya. cZ-01)*

Post a Comment

0 Comments